Disiplin atau Kekerasan? Batas yang sering dilanggar di Sekolah
Depok, 21 November 2025 – Halo teman Jurnal, kalian pernah ga dihukum oleh guru di sekolah ketika kalian ngelakuin kesalahan?, lalu, apa hukuman yang di berikan oleh guru tersebut sesuai dengan kesalahan yang kalian lakukan? Kadang, guru memberikan hukuman tidak sesuai dengan kesalahan siswa dan tidak masuk kedalam peraturan sekolah yang kadang berlebihan, jadi menurut kalian perlu kah guru melakukan itu?, dan bolehkan guru melakukan itu?.
Sebelum nya, kalian harus membedakan 2 hal, yaitu disiplin dan kekerasan dalam bentuk disiplin, disiplin adalah perilaku taat dan patuh terhadap aturan biasanya orang yang disiplin itu memiliki kesadaran tinggi tanpa teguran dari guru maupun orang lain. Lalu kekerasan dalam bentuk disiplin itu merujuk pada tindakan hukuman yang dilakukan dengan dalih menertibkan dan mendidik, contoh kekerasan dalam bentuk disiplin:
- Hukuman fisik.
- Kekerasan emosional (membentak).
- Hukuman yang berlebihan.
Pernahkah kamu bingung membedakan? Saat guru marah, apakah itu ketegasa mendidik, atau sudah melewati batas menjadi kekerasan? Di sekolah, batas antara keduanya seringkali buram. Padahal, mengenali perbedaan ini sangat penting, karena disiplin membangun karakter, sementara kekerasan hanya menanamkan trauma.
Setiap siswa pasti pernah melakukan kesalahan. Niat guru untuk meluruskan dan mendisiplinkan kita sudah pasti baik. Namun, cara yang digunakan kadang membuat kita bertanya: Apakah bentakan, jeweran, atau sindiran pedas itu benar-benar bagian dari disiplin? Mari kita bongkar batas tipis ini.
Kekerasan : Benih Ketakutan dan Luka Batin
Menurut para ahli pendidikan, kekerasan di sekolah bukan hanya soal pukulan, tapi juga kata-kata yang menyakitkan.
Bu Ega, seorang Guru Bimbingan Konseling (BK), melihat kekerasan sebagai solusi yang gagal total.
“Kekerasan, baik dalam bentuk kata-kata tajam yang menghina maupun sentuhan fisik yang menyakitkan, hanya menciptakan reaksi negatif: rasa takut yang mencekam, trauma, dan kebencian terhadap proses belajar. Disiplin sejati itu haruslah seperti energi yang muncul dari diri sendiri, bukan dari rasa takut terhadap hukuman yang menyakitkan,” tegas Bu Ega.
Bu Dilla, guru mata pelajaran, menambahkan bahwa kekerasan, sekecil apapun (seperti ejekan yang merendahkan di depan teman), akan menggerus kepercayaan diri kita. Kepatuhan yang lahir karena kita takut dimarahi itu palsu dan tidak akan pernah menjadi karakter. Batas antara keduanya terletak pada niat (mendidik atau melampiaskan emosi), cara (empati atau intimidasi), dan dampak (membuat sadar atau membuat sakit hati).
Disiplin: Ketegasan yang Dibalut Empati
Disiplin yang benar adalah ketegasan yang didasari kasih sayang dan bertujuan membangun tanggung jawab kita.
- Fokus pada Penyelesaian Masalah (Ala Guru BK)
Bu Ega menjelaskan bahwa ketika kita melanggar aturan, fokusnya bukan menghukum, tetapi mencari tahu akar masalahnya.
Bimbingan Pribadi : Melalui konseling yang hangat, Bu Ega mengajak kita bicara empat mata. Bersama-sama, dicari tahu mengapa kita berperilaku demikian. Ini adalah proses penyembuhan, bukan penghakiman.
Perjanjian Jelas: Disiplin diwujudkan lewat Kontrak Perilaku yang kita tandatangani sendiri, berisi janji perbaikan. Ditambah dengan Jurnaling Reflektif, kita dilatih untuk bertanggung jawab dan mengamati kemajuan diri sendiri. Ini adalah cara disiplin yang mandiri.
- Konsekuensi yang Logis (Kata Siswa)
Salsa, perwakilan suara siswa, setuju bahwa hukuman seharusnya relevan dengan kesalahan, bukan sekadar pelampiasan amarah.
“Disiplin itu harus mengajarkan konsekuensi logis. Kalau aku telat, aku harus membersihkan area yang kotor. Aku belajar menghargai waktu dan bertanggung jawab. Kalau aku melanggar aturan di kelas, aku mungkin harus membuat rangkuman tambahan. Ini mendidik! Kalau cuma dijewer, aku cuma dapat sakit fisik dan hati,”
jelas Salsa.
Disiplin yang efektif selalu mengaitkan kesalahan kita dengan tindakan perbaikan yang bermakna. Ini membuat kita memikirkan dampak buruk tindakan kita, bukan sekadar menghindari rasa sakit.
Jadikan Disiplin Sebagai “Kekuatan Diri”
Teman-teman, batas antara disiplin dan kekerasan sangat tipis, tapi dampaknya sangat besar bagi masa depan kita.
Kekerasan hanya menciptakan kepatuhan sementara. Disiplin menumbuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan kemandirian yang kita butuhkan seumur hidup.
Jika kamu merasa guru sudah melanggar batas, jangan takut bicara baik-baik dengan Guru BK atau orang dewasa yang kamu percaya. Bersama-sama, kita bisa ciptakan lingkungan sekolah di mana disiplin diartikan sebagai bimbingan yang penuh empati, bukan sebagai alat intimidasi.
Artikel by : Cantika Larasati
Edited by : Dicky Santoso, S.I.Kom





