HARI AIDS SEDUNIA: Mengingat, Menghormati, dan Beraksi
Depok, 1 Desember – Setiap tahun, pada tanggal 1 Desember, dunia memperingati Hari AIDS Sedunia. Peringatan ini pertama kali dicanangkan pada tahun 1988 oleh WHO dan menjadi kampanye kesehatan pertama yang dilakukan secara internasional. Banyak yang menganggap hari ini sekadar kampanye kesehatan global, padahal maknanya jauh lebih dalam tentang keberanian, empati, dan kesadaran bahwa manusia tidak boleh dibiarkan menghadapi perjuangannya seorang diri.
Peringatan ini mengajak kita untuk merefleksikan kembali komitmen global, sejalan dengan tema Hari AIDS Sedunia 2025, yaitu ‘Overcoming disruption, transforming the AIDS response’ atau ‘Bersama Hadapi Perubahan, Jaga Keberlanjutan Layanan HIV’. Tema ini menyerukan bahwa layanan HIV harus tetap adaptif, inklusif, dan yang paling penting, harus bebas dari stigma.
Selama bertahun-tahun, HIV identik dengan ketakutan, stigma, dan kesalahpahaman. Namun kenyataan saat ini menunjukkan perubahan besar, HIV dapat dikelola, dan orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) dapat menjalani kehidupan sehat, bekerja, berkeluarga, serta berkontribusi dalam masyarakat. Kemajuan medis telah membuktikan konsep ‘Tidak Terdeteksi sama dengan Tidak Menularkan’ (U=U). Artinya, ODHIV yang patuh minum obat ART dan mencapai viral load yang tidak terdeteksi, tidak akan menularkan virus secara seksual kepada pasangannya. Yang masih menjadi tantangan utama justru cara kita memandang mereka.
Tidak ada yang bangun di pagi hari dan berharap bertemu HIV. Namun hidup tidak selalu berjalan seperti rencana. Ada yang tertular tanpa pernah tahu dari siapa. Ada yang menyalahkan diri sendiri bertahun-tahun. Ada yang terus hidup dalam diam karena takut dianggap “kotor”.
Sekitar 0,45% dari total populasi dunia hidup dengan HIV, atau sekitar 40,8 juta orang berdasarkan perkiraan tahun 2024. Sementara estimasi jumlah orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia pada tahun 2025 adalah sekitar 564.000 orang, di mana sekitar 356.638 di antaranya atau 63% telah mengetahui statusnya.
Pada tahun 2023, sekitar 630.000 orang di seluruh dunia meninggal akibat penyakit terkait AIDS, yang merupakan penurunan signifikan dari angka 2,1 juta pada tahun 2004. Namun, angka ini masih melebihi target global untuk mengakhiri pandemi AIDS pada 2025. Hal ini menunjukkan bahwa HIV/AIDS tetap menjadi penyebab kematian yang signifikan.
Tidak semua orang harus mengerti seluruh aspek medis HIV. Namun setiap orang bisa berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi. Bentuk dukungan yang paling sederhana adalah:
Tidak menyebarkan rumor atau prasangka.
Menghargai privasi orang lain.
Menyebarkan informasi kesehatan yang benar.
Menawarkan telinga dan hati yang mau mendengar.
Mendukung ketersediaan dan akses terhadap layanan pencegahan (seperti PrEP) dan pengobatan ART.
Mendorong tes HIV sukarela dan rutin sebagai langkah pencegahan diri.
Kadang, sikap tidak menghakimi saja sudah cukup menjadi ruang napas bagi mereka yang sedang berjuang. Peringatan ini mengajak kita untuk tidak hanya peduli satu hari, tetapi menumbuhkan kebiasaan baru: berhenti menyudutkan, berhenti menstereotipkan. Kita berpegang pada tujuan global untuk mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030.
Hari AIDS Sedunia bukan hanya untuk mereka yang hidup dengan HIV. Ini hari untuk kita semua agar setiap orang di dunia ini merasa terlindungi, dihargai, dan tidak sendiri. Karena memerangi HIV bukan hanya urusan medis, ini soal kemanusiaan. Mari kita bersama-sama menciptakan dunia yang lebih inklusif, lebih peduli, dan lebih manusiawi bagi semua orang, tanpa terkecuali.
Artikel by : Nur Afikah
Edited by : Dicky Santoso, S.I.Kom





