Hari Olahraga Nasional 2026: Di Tengah Kesibukan Pelajar, Masihkah Olahraga Menjadi Prioritas? Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 menjadi pengingat bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga bagian penting dari gaya hidup sehat. Di tengah padatnya jadwal sekolah, tugas, kegiatan organisasi, hingga penggunaan gadget yang semakin tinggi, banyak pelajar mulai kesulitan meluangkan waktu untuk berolahraga. Padahal, tubuh yang sehat merupakan modal utama untuk belajar, berkarya, dan meraih prestasi. Kesibukan memang tidak bisa dihindari. Namun, apakah kesibukan tersebut menjadi alasan untuk mengabaikan aktivitas fisik? Atau justru olahraga perlu tetap menjadi prioritas agar tubuh dan pikiran mampu menghadapi berbagai tuntutan sehari-hari? Hari Olahraga Nasional Bukan Sekadar Peringatan Setiap tanggal 9 September, Indonesia memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Tanggal tersebut berkaitan dengan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama yang berlangsung di Solo pada 9 September 1948. Sejak saat itu, Haornas menjadi salah satu momentum untuk meningkatkan semangat olahraga di Indonesia. Namun, menurut saya, Hari Olahraga Nasional seharusnya tidak hanya menjadi agenda tahunan yang ramai diperingati selama satu hari. Momentum ini perlu menjadi pengingat bahwa olahraga merupakan kebiasaan yang seharusnya terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh pelajar. Bagi pelajar, semangat Haornas dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu membiasakan tubuh untuk tetap aktif setiap hari. Tidak perlu menunggu menjadi atlet atau mengikuti kompetisi, karena aktivitas fisik dapat dilakukan oleh siapa saja sesuai kemampuan masing-masing. Pentingnya Olahraga bagi Kesehatan Pelajar Olahraga memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan fisik maupun mental. Menurut World Health Organization (WHO), anak dan remaja berusia 5–17 tahun dianjurkan melakukan setidaknya 60 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat setiap hari. Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga kebugaran tubuh, memperkuat tulang dan otot, serta mendukung kesehatan secara keseluruhan. Selain itu, olahraga juga dapat membantu menjaga kesehatan mental, mengurangi stres, memperbaiki kualitas tidur, dan meningkatkan konsentrasi. Bagi pelajar yang setiap hari menghadapi tugas, ujian, kegiatan sekolah, dan berbagai tuntutan lainnya, aktivitas fisik dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan tubuh dan pikiran. Olahraga juga tidak harus dilakukan melalui latihan berat atau mengikuti kompetisi. Berjalan kaki, bersepeda, bermain sepak bola, bulu tangkis, basket, voli, jogging, maupun mengikuti kegiatan olahraga di sekolah merupakan beberapa contoh aktivitas fisik yang dapat dilakukan. Artinya, olahraga sebenarnya tidak harus rumit. Yang paling penting adalah bagaimana tubuh tetap aktif secara rutin. Mengapa Banyak Pelajar Kurang Aktif Berolahraga? Jika olahraga memiliki banyak manfaat, mengapa masih banyak orang yang kurang aktif bergerak? Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 37,4% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas tergolong kurang melakukan aktivitas fisik. Dari kelompok tersebut, alasan terbesar yang diberikan adalah tidak memiliki waktu, yaitu sebesar 48,7%. Kondisi tersebut cukup dekat dengan kehidupan pelajar. Setelah mengikuti pembelajaran di sekolah, mereka masih harus mengerjakan tugas, mengikuti organisasi, belajar di rumah, membantu pekerjaan rumah, hingga mempersiapkan berbagai kegiatan lainnya. Di sisi lain, penggunaan smartphone, bermain game, dan media sosial juga membuat banyak waktu luang dihabiskan dalam keadaan duduk. Menurut saya, alasan “tidak punya waktu” sering kali muncul karena olahraga belum menjadi prioritas. Padahal, seseorang tidak harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk berolahraga. Menyediakan waktu 20 hingga 30 menit untuk bergerak secara rutin dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan yang lebih sehat. Masalahnya bukan selalu tentang berapa banyak waktu yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakannya. Dampak Kurangnya Aktivitas Fisik bagi Pelajar Kurangnya aktivitas fisik tidak hanya berdampak pada kesehatan tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Gaya hidup yang terlalu banyak duduk atau sedentary lifestyle dapat menyebabkan tubuh menjadi kurang bugar. Dalam jangka panjang, kurangnya aktivitas fisik juga berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai masalah kesehatan. Bagi pelajar, kebiasaan kurang bergerak juga dapat membuat waktu sehari-hari lebih banyak dihabiskan di depan layar. Padahal, tubuh tetap membutuhkan aktivitas agar dapat menjaga kebugaran. Sebaliknya, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu pelajar menjaga kebugaran, mengelola stres, dan mendukung kemampuan untuk menjalani kegiatan belajar maupun aktivitas lainnya. Karena itu, olahraga tidak seharusnya dianggap sebagai kegiatan tambahan yang hanya dilakukan ketika memiliki banyak waktu. Aktivitas fisik justru perlu menjadi bagian dari rutinitas. Hari Olahraga Nasional 2026 sebagai Momentum Membangun Kebiasaan Sehat Hari Olahraga Nasional 2026 dapat menjadi momentum untuk memulai perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan olahraga tidak harus dimulai dengan target yang berat. Hal yang lebih penting adalah konsistensi. Pelajar dapat memulainya melalui beberapa kebiasaan sederhana, seperti: mengikuti kegiatan olahraga di sekolah dengan aktif; mengikuti ekstrakurikuler olahraga; berjalan kaki atau bersepeda jika memungkinkan; bermain olahraga bersama teman; mengurangi waktu duduk terlalu lama; meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas fisik setiap hari. Kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan aktivitas olahraga yang hanya dilakukan sesekali. Haornas juga dapat menjadi momentum bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan yang mendorong siswa lebih aktif. Kegiatan seperti senam, pertandingan antarkelas, ekstrakurikuler olahraga, maupun aktivitas fisik lainnya dapat menjadi sarana untuk membangun budaya olahraga di lingkungan sekolah. Olahraga Bukan Hanya untuk Menjadi Juara Olahraga sering kali dikaitkan dengan kompetisi dan prestasi. Atlet yang memenangkan pertandingan mendapatkan penghargaan, medali, dan pengakuan. Namun, manfaat olahraga sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar menjadi juara. Bagi pelajar, olahraga dapat mengajarkan berbagai nilai seperti disiplin, kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, dan kemampuan untuk menerima kemenangan maupun kekalahan. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bekal penting dalam kehidupan. Pelajar tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga kesehatan fisik dan karakter yang baik untuk menghadapi masa depan. Saya percaya bahwa olahraga bukan hanya tentang mengejar prestasi atau menjadi atlet. Bagi pelajar, menjaga tubuh tetap sehat merupakan bekal penting agar dapat belajar dengan optimal, berkarya, dan meraih cita-cita di masa depan. Dengan tubuh yang sehat dan pikiran yang lebih segar, berbagai aktivitas sehari-hari juga dapat dijalani dengan lebih baik. Olahraga Harus Menjadi Kebiasaan, Bukan Sekadar Tren Peringatan Hari Olahraga Nasional setiap 9 September memang dapat meningkatkan perhatian masyarakat terhadap pentingnya olahraga. Namun, semangat tersebut akan kehilangan makna jika hanya bertahan selama satu hari. Olahraga seharusnya menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Tidak perlu selalu melakukan aktivitas yang berat. Berjalan kaki, bermain bersama teman, bersepeda, atau melakukan aktivitas fisik lainnya dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Meremehkan Pendapat dan Kemampuan Orang Lain: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya
Meremehkan Pendapat dan Kemampuan Orang Lain: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya Meremehkan pendapat dan kemampuan orang lain merupakan sikap yang masih sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah maupun pergaulan. Sikap ini tidak hanya terlihat dari ucapan yang merendahkan, tetapi juga dari cara seseorang menanggapi ide, usaha, atau kesalahan orang lain. Padahal, kebiasaan meremehkan dapat menurunkan rasa percaya diri, menghambat perkembangan seseorang, bahkan merusak hubungan sosial. Apa yang Dimaksud dengan Meremehkan Pendapat dan Kemampuan Orang Lain? Meremehkan pendapat dan kemampuan orang lain adalah sikap menganggap ide, usaha, atau kemampuan seseorang tidak berharga tanpa memberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Sikap ini dapat muncul dalam bentuk perkataan, tindakan, ekspresi wajah, hingga candaan yang membuat orang lain merasa tidak dihargai. Banyak orang menganggap perilaku ini sebagai hal yang biasa. Padahal, jika terus dilakukan, dampaknya bisa cukup besar terhadap kepercayaan diri seseorang maupun suasana dalam sebuah kelompok. Contoh Sikap Meremehkan Pendapat Orang Lain Dalam kehidupan sehari-hari, sikap meremehkan sering terlihat saat diskusi atau kerja kelompok. Ketika seorang teman menyampaikan pendapat, ada yang langsung memotong pembicaraan, menertawakan, atau mengatakan bahwa idenya tidak bagus tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Padahal, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Justru dari perbedaan tersebut, sebuah kelompok dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Yang menjadi masalah bukanlah ketidaksetujuannya, melainkan cara menyampaikan penolakan dengan merendahkan orang yang memberikan pendapat. Contoh Meremehkan Kemampuan Orang Lain Sikap meremehkan kemampuan orang lain juga sering muncul ketika seseorang dinilai hanya berdasarkan satu kesalahan. Misalnya, seorang siswa yang sekali tidak mengerjakan PR langsung dianggap malas atau tidak bertanggung jawab. Padahal, kita tidak selalu mengetahui kondisi yang sedang dialami seseorang. Memberikan penilaian terlalu cepat dapat membuat seseorang merasa sudah diberi label sehingga kehilangan kesempatan untuk menunjukkan perubahan. Penyebab Seseorang Meremehkan Orang Lain Ada beberapa alasan mengapa seseorang memiliki kebiasaan meremehkan pendapat dan kemampuan orang lain. Pertama, sebagian orang ingin terlihat lebih pintar atau lebih unggul dibandingkan orang lain. Kedua, ada yang terbiasa membandingkan dirinya dengan orang lain sehingga merasa perlu menunjukkan bahwa dirinya lebih baik. Ketiga, ada orang yang sebenarnya tidak menyadari bahwa cara berbicaranya terdengar merendahkan karena sudah menjadi kebiasaan. Keempat, tidak sedikit orang yang sebenarnya ingin memberikan motivasi, tetapi memilih cara penyampaian yang kurang tepat. Apakah Meremehkan Selalu Berdampak Buruk? Menurut sebagian orang, kalimat seperti “kamu pasti nggak bisa” terkadang dimaksudkan sebagai tantangan agar seseorang membuktikan kemampuannya. Cara tersebut memang bisa berhasil bagi sebagian orang. Namun, tidak semua orang memiliki respons yang sama. Ada yang menjadi lebih semangat, tetapi ada juga yang kehilangan rasa percaya diri. Artinya, niat seseorang belum tentu menghasilkan dampak yang diharapkan. Pengalaman yang Mengajarkan Arti Menghargai Orang Lain Saya pernah mengalami situasi ketika tidak bisa melakukan sesuatu yang dianggap mudah oleh teman-teman. Bukannya dibantu atau diajari, saya justru ditertawakan. Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa respons orang lain sangat memengaruhi keberanian seseorang untuk mencoba. Ketika seseorang diberi kesempatan belajar tanpa takut diejek, ia akan lebih percaya diri untuk berkembang. Candaan yang Berubah Menjadi Sikap Meremehkan Meremehkan tidak selalu dilakukan secara serius. Kadang sikap tersebut muncul dalam bentuk candaan, misalnya melalui kalimat seperti “kamu emang bisa apa?” atau “segitu aja nggak bisa.” Bagi sebagian orang, kalimat tersebut mungkin terasa lucu. Namun, bagi orang lain, candaan seperti itu dapat melukai perasaan. Terlebih jika terus diulang meskipun sudah mengetahui bahwa orang tersebut merasa tidak nyaman. Cara Mengatasi Kebiasaan Meremehkan Orang Lain Mengatasi kebiasaan meremehkan bukan berarti kita harus selalu memuji orang lain. Kritik tetap diperlukan agar seseorang mengetahui kekurangannya dan memiliki kesempatan untuk berkembang. Yang perlu diperhatikan adalah cara menyampaikan kritik. Daripada mengatakan, “Kamu memang nggak bisa,” akan lebih baik jika mengatakan, “Bagian ini masih kurang, coba kita perbaiki bersama.” Dengan cara tersebut, pesan tetap tersampaikan tanpa membuat orang lain merasa direndahkan. Sikap yang Perlu Dimiliki Orang yang Diremehkan Orang yang sering diremehkan juga tidak harus langsung menganggap dirinya tidak mampu. Kritik yang membangun dapat dijadikan bahan evaluasi, sedangkan perkataan yang hanya bertujuan menjatuhkan tidak perlu dijadikan alasan untuk berhenti mencoba. Kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh penilaian orang lain, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar dan berkembang. Kesimpulan Meremehkan pendapat dan kemampuan orang lain dapat terjadi karena berbagai alasan, mulai dari keinginan untuk terlihat lebih unggul, kebiasaan membandingkan diri, kurangnya kesadaran dalam berbicara, hingga niat memotivasi yang disampaikan dengan cara yang kurang tepat. Oleh karena itu, solusi terbaik bukan sekadar menghindari perkataan yang menyakitkan, tetapi juga belajar memahami perasaan orang lain serta memperbaiki cara berkomunikasi. Kritik sebaiknya digunakan untuk membantu seseorang berkembang, bukan untuk menjatuhkannya. Dengan saling menghargai pendapat dan kemampuan orang lain, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih positif, sehat, dan mendukung perkembangan setiap individu. Written by : Alfira Emilia Chesta Edited by : Dicky Santoso, S.I.Kom 131 Views
Menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia di SMK TI Dwiguna
Menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia di SMK TI Dwiguna Senin, 17 Agustus 2026 (Depok), Setiap bulan Agustus, suasana Indonesia seolah memiliki warna yang berbeda. Bendera merah putih mulai menghiasi jalan dan lingkungan sekitar, berbagai kegiatan disiapkan, dan masyarakat kembali disatukan dalam semangat yang sama, yaitu memperingati kemerdekaan Indonesia. Semua keramaian itu bermuara pada satu tanggal: 17 Agustus. Tanggal 17 Agustus 1945 bukan sekadar tanggal merah di kalender. Pada hari tersebut, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah bangsa sekaligus simbol bahwa Indonesia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri setelah melalui perjuangan panjang untuk mencapai kemerdekaan. Bagi masyarakat, kemerdekaan bukan hanya berarti terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga memberikan kesempatan untuk hidup dengan aman, mendapatkan pendidikan, bekerja, menentukan masa depan, serta menyampaikan pendapat. Kebebasan yang dirasakan saat ini merupakan hasil dari perjuangan panjang para pahlawan yang perlu terus dihargai dan diingat. Setiap tahun, masyarakat memiliki berbagai cara untuk mengisi dan memeriahkan Hari Kemerdekaan. Bendera merah putih menghiasi rumah dan jalanan, sementara berbagai perlombaan, kerja bakti, jalan santai, hingga pentas seni turut meramaikan lingkungan. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berkumpul, bekerja sama, dan mempererat kebersamaan. Semangat tersebut juga terlihat dalam peringatan Hari Kemerdekaan di SMK TI Dwiguna Depok. Tahun ini, sekolah mengemas perayaan kemerdekaan melalui rangkaian kegiatan selama tiga hari yang melibatkan siswa dan guru. Tiga Hari Penuh Semangat Kemerdekaan di SMK TI Dwiguna Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari berturut-turut dengan berbagai perlombaan dan aktivitas yang berbeda setiap harinya. Kegiatan diawali dengan upacara peringatan Hari Kemerdekaan yang dimulai pada pukul 08.00 WIB. Upacara diikuti oleh seluruh warga sekolah. Kepala Sekolah SMK TI Dwiguna bertindak sebagai pembina upacara dan menyampaikan amanat mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Dalam amanatnya, para siswa diingatkan untuk menjadi generasi yang maju dan mampu meneruskan perjuangan para pahlawan dengan belajar, berkarya, serta memberikan kontribusi positif bagi bangsa. Semangat tersebut diharapkan dapat membawa Indonesia menjadi negara yang berdaulat, adil, dan makmur. kemeriahan dilanjutkan dengan berbagai perlombaan yang telah disiapkan oleh sekolah. Hari pertama diisi dengan beberapa perlombaan untuk siswa, yaitu tiup gelas dan ikat kaki. Tidak hanya siswa, para guru juga ikut memeriahkan kegiatan melalui perlombaan khusus, yaitu memakai kemeja dan celana serta tebak gaya. Keterlibatan para guru membuat suasana akan semakin ramai dan menciptakan momen kebersamaan antara guru dan siswa di luar kegiatan pembelajaran. Hari Kedua: Kreativitas di Dapur Memasuki hari kedua, kegiatan berlanjut dengan perlombaan memasak yang melibatkan guru dan siswa. Para siswa mengikuti lomba memasak seblak, sedangkan para guru mengikuti lomba memasak singkong. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta untuk menunjukkan kreativitas dalam mengolah makanan. Keseruan semakin terasa ketika para peserta mulai menyiapkan bahan dan mengolah makanan masing-masing. Perlombaan memasak menjadi salah satu kegiatan yang menarik. Selain berkompetisi, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk membangun kerja sama dan kebersamaan. Hari Ketiga: Menutup Perayaan dengan Fun Walk Setelah dua hari diisi dengan berbagai perlombaan, rangkaian kegiatan ditutup pada hari ketiga melalui fun walk. Para peserta berjalan bersama sejauh kurang lebih 5 kilometer, dengan rute yang dimulai dari SMK TI Dwiguna hingga Sekolah Media Teknologi. Fun walk menjadi penutup yang berbeda dari kegiatan sebelumnya. Jika dua hari pertama diisi dengan berbagai perlombaan, hari terakhir lebih menonjolkan kebersamaan sekaligus aktivitas fisik. Para peserta dapat menikmati perjalanan sambil berolahraga dan menghabiskan waktu bersama. Rangkaian kegiatan selama tiga hari tersebut menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan. Upacara menjadi momen untuk mengenang perjuangan bangsa, perlombaan menjadi sarana membangun sportivitas dan kebersamaan, sedangkan fun walk menjadi kegiatan yang mempererat hubungan antarwarga sekolah. Pada akhirnya, peringatan 17 Agustus bukan sekadar kegiatan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan. Lebih dari itu, perayaan tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan perlu diisi dengan hal-hal positif. Dari lingkungan sekolah, semangat untuk menjadi generasi yang maju dapat terus tumbuh. Dengan belajar, berkarya, menjaga persatuan, dan menghargai perjuangan para pahlawan, generasi muda dapat ikut membawa Indonesia menuju masa depan yang berdaulat, adil, dan makmur. Written by : Windi Pratiwi Edited by : Dicky Santoso, S.I.Kom 120 Views
Pramuka dan Karakter Generasi Muda di Tengah Perkembangan Teknologi
Pramuka dan Karakter Generasi Muda di Tengah Perkembangan Teknologi Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, generasi muda kini dapat memperoleh informasi dan melakukan berbagai pekerjaan hanya dalam hitungan detik. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) bahkan membuat berbagai hal yang sebelumnya sulit dilakukan menjadi lebih mudah. Namun, apakah kecanggihan teknologi sudah cukup untuk membentuk generasi muda yang berkualitas? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang relevan dalam peringatan Hari Pramuka ke-65. Pada Jumat, 14 Agustus 2026, upacara peringatan Hari Pramuka dilaksanakan di Aula Lantai 4 SMK Kebersamaan. Upacara dimulai pada pukul 07.35 WIB dengan M. Azhar Mamoen, S.Kom. sebagai pembina upacara dan Zaidan sebagai pemimpin upacara. Kegiatan tersebut diikuti oleh siswa kelas 11 SMK TI Dwiguna. Pramuka Bukan Sekadar Seragam dan Kegiatan Dalam amanatnya, M. Azhar Mamoen, S.Kom. menegaskan bahwa Pramuka bukan hanya tentang mengenakan seragam cokelat, baris-berbaris, berkemah, atau melakukan kegiatan seperti pioneering dan yel-yel. Lebih dari itu, Pramuka memiliki peran dalam membentuk karakter generasi muda. Melalui Pramuka, siswa diajarkan untuk memiliki tanggung jawab, disiplin, mandiri, berani, peduli, setia, serta memiliki rasa cinta kepada Tuhan, sesama manusia, bangsa, dan negara. Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam Tri Satya dan Dasa Darma yang seharusnya tidak hanya dihafalkan, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan Pramuka sebenarnya memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar aktivitas di sekolah. Nilai yang diperoleh dari kegiatan Pramuka dapat menjadi bekal bagi siswa ketika menghadapi kehidupan di masyarakat. Karakter Manusia di Tengah Perkembangan AI Perkembangan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Saat ini, AI mampu membantu manusia membuat gambar, film, program, hingga berbagai pekerjaan lainnya. Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak manfaat, tetapi juga membutuhkan sikap bijak dari penggunanya. Dalam amanatnya, M. Azhar Mamoen, S.Kom. menyampaikan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan karakter manusia. Ia menekankan pentingnya kepedulian, empati, simpati, dan tanggung jawab. “Yang membedakan kita dengan AI adalah kita harus punya karakter.” Pesan tersebut menurut saya sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk membantu manusia berkembang, bukan membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir, bertanggung jawab, dan peduli kepada orang lain. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan karakter yang baik. M. Azhar Mamoen, S.Kom. juga mengingatkan bahwa generasi muda tidak cukup hanya menjadi pintar. Mereka juga harus menjadi pribadi yang baik, benar, sehat, dan terampil sesuai dengan nilai Panca Waluya yang terdiri dari cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. Pramuka dan Perannya di Lingkungan Sekolah Selain membentuk karakter pribadi, Pramuka juga diharapkan memiliki peran dalam membangun lingkungan sekolah. Dalam amanatnya, M. Azhar Mamoen, S.Kom. mendorong anggota Pramuka untuk membangun sinergi dan berkolaborasi dengan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Kolaborasi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sekolah. M. Azhar Mamoen, S.Kom. juga menyoroti kegiatan upacara rutin setiap hari Senin. Menurutnya, anggota Pramuka dapat ikut berperan sebagai petugas maupun membantu melatih siswa yang akan bertugas dalam upacara. Dengan adanya kolaborasi antara Pramuka dan organisasi sekolah lainnya, nilai kedisiplinan, kerapian, tanggung jawab, dan kebersamaan diharapkan dapat semakin diterapkan dalam kehidupan sekolah. Bukan Hanya Bangga Menjadi Pramuka Peringatan Hari Pramuka ke-65 menjadi pengingat bahwa menjadi anggota Pramuka bukan hanya tentang mengenakan seragam atau mengikuti kegiatan. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Pramuka diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, pesan yang disampaikan dalam amanat tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan AI. Generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap memiliki karakter sebagai landasan dalam menggunakan teknologi. Pramuka dapat menjadi salah satu wadah untuk membangun karakter tersebut. Dengan mengamalkan Tri Satya, Dasa Darma, dan Panca Waluya, siswa tidak hanya diharapkan menjadi generasi yang cerdas, tetapi juga menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, peduli, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat manusia melupakan nilai-nilai kemanusiaan. Seperti pesan yang disampaikan dalam amanat Hari Pramuka ke-65, generasi muda harus terus belajar, berani memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan sejak hari ini. Karena kecerdasan dapat membantu seseorang melangkah lebih jauh, tetapi karakterlah yang menentukan bagaimana langkah tersebut digunakan. Penulis oleh : Dhamar Dwi AryantoPenyunting : Dicky Santoso, S.I.Kom 92 Views
Hari Remaja Nasional: Saatnya Mengenal Diri dan Menyiapkan Masa Depan
Hari Remaja Nasional: Saatnya Mengenal Diri dan Menyiapkan Masa Depan “Masa remaja hanya datang sekali. Lalu, apa yang sudah kita lakukan selama menjadi remaja?” Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi pengingat bahwa masa remaja bukan hanya tentang bersenang-senang, tetapi juga tentang belajar mengenal diri, menemukan potensi, dan menentukan langkah untuk masa depan. Hari Remaja Nasional menjadi salah satu momen untuk mengingatkan kita tentang pentingnya masa remaja. Menjadi remaja adalah sebuah proses yang penuh dengan pengalaman. Ada saatnya merasa percaya diri, tetapi ada juga saat merasa bingung, takut gagal, atau belum tahu ingin menjadi seperti apa. Hal tersebut merupakan bagian dari proses untuk mengenal diri sendiri. Menurut World Health Organization (WHO), masa remaja berada pada rentang usia 10 hingga 19 tahun. Pada fase ini terjadi perkembangan fisik, emosional, sosial, dan kemampuan berpikir yang sangat pesat. Kebiasaan yang dibentuk sejak remaja, baik dalam belajar, bergaul, maupun menjaga kesehatan, akan memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan di masa dewasa. Sebagai remaja, kita memiliki banyak kesempatan untuk berkembang. Kita bisa belajar melalui sekolah, mengikuti organisasi, ekstrakurikuler, kegiatan sosial, mengembangkan bakat, dan mencoba hal-hal baru. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk langsung mengetahui semua jawaban tentang masa depan. Yang terpenting adalah berani mencoba, belajar dari kesalahan, dan terus memperbaiki diri. Setiap pengalaman, baik keberhasilan maupun kegagalan, adalah bekal untuk menjadi pribadi yang lebih matang. Di sisi lain, kehidupan remaja saat ini tidak lepas dari teknologi dan media sosial. Teknologi memang memberikan banyak manfaat, seperti memudahkan kita mencari informasi, belajar, berkomunikasi, hingga menghasilkan karya. Namun, penggunaan media sosial juga perlu disikapi dengan bijak. Terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri, kecemasan, bahkan membuat kita kehilangan fokus terhadap tujuan yang sebenarnya. Data WHO Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 46 juta penduduk Indonesia, atau sekitar 17% dari total populasi, merupakan remaja. Jumlah yang besar ini menjadi potensi luar biasa dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Namun, WHO juga mencatat beberapa tantangan yang dihadapi remaja Indonesia, seperti meningkatnya penggunaan rokok elektronik di kalangan pelajar, gangguan kecemasan, serta pentingnya peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kesehatan fisik, mental, dan karakter yang kuat. Selain itu, lingkungan pertemanan juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan diri. Karena itu, kita perlu memilih lingkungan yang dapat memberikan pengaruh positif dan saling mendukung. Teman yang baik bukan hanya teman yang selalu ada saat senang, tetapi juga yang berani mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan dan mendorong kita menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui Hari Remaja Nasional, saya ingin mengingatkan diri sendiri dan pembaca bahwa tidak apa-apa jika kita masih mencari jati diri. Tidak apa-apa jika kita pernah gagal atau belum mengetahui tujuan hidup dengan jelas. Selama kita mau belajar dan terus berusaha, setiap pengalaman dapat menjadi bagian dari proses menuju pribadi yang lebih baik. Jadi, jangan hanya melewati masa remaja, tetapi manfaatkanlah masa ini. Kenali diri sendiri, berani mencoba, jaga pergaulan, gunakan teknologi secara bijak, dan isi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Karena masa depan tidak dibentuk dalam satu hari, melainkan dimulai dari kebiasaan-kebiasaan baik dan pilihan-pilihan kecil yang kita lakukan sebagai remaja hari ini. Referensi World Health Organization. (2026). Adolescent Health. Tersedia di: https://www.who.int/health-topics/adolescent-health World Health Organization. (2026). Promoting Adolescent Well-being. Tersedia di: https://www.who.int/health-topics/adolescent-health/promoting-adolescent-well-being World Health Organization. (2024). Adolescent and Young Adult Health: Key Facts. Tersedia di: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescents-health-risks-and-solutions World Health Organization. Global Action for Measurement of Adolescent Health (GAMA). Tersedia di: https://www.who.int/groups/the-global-action-for-measurement-of-adolescent-health Written by : Nadifa Farania Edited by : Dicky Santoso, S.I.Kom 124 Views
Teknologi dan Perannya bagi Generasi Muda Indonesia
Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Teknologi dan Perannya bagi Generasi Muda Indonesia Hari Kebangkitan Teknologi Nasional atau Hakteknas diperingati setiap 10 Agustus. Peringatan ini menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap perkembangan teknologi dan inovasi di Indonesia. Saat ini, teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari belajar, berkomunikasi, bekerja, hingga mencari informasi. Perkembangan teknologi di Indonesia juga semakin pesat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan bahwa internet semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan dengan lebih cepat dan mudah. Dalam bidang pendidikan, teknologi sangat membantu pelajar. Kita dapat mencari materi tambahan, menonton video pembelajaran, membaca buku digital, dan menggunakan berbagai aplikasi untuk memahami pelajaran. Namun, kemudahan tersebut tetap harus digunakan dengan bijak. Jangan sampai siswa hanya mencari jawaban di internet tanpa benar-benar memahami materi yang sedang dipelajari. Salah satu perkembangan teknologi yang sekarang banyak dibicarakan adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. AI dapat membantu manusia dalam berbagai kegiatan, termasuk mencari informasi, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, dan mendukung proses belajar. Bagi pelajar, AI dapat digunakan untuk menjelaskan materi yang sulit atau memberikan contoh yang lebih mudah dipahami. Namun, AI seharusnya menjadi alat untuk membantu proses belajar, bukan menggantikan usaha kita sendiri. Jika setiap tugas langsung diberikan kepada AI tanpa dipahami, kita justru berisiko menjadi terlalu bergantung pada teknologi. Tantangannya bukan lagi sekadar apakah pelajar boleh menggunakan AI, tetapi bagaimana memastikan teknologi tersebut tetap digunakan untuk membantu proses berpikir, bukan menggantikannya. Selain pendidikan, teknologi juga memberikan pengaruh besar dalam bidang ekonomi. Sekarang banyak orang memanfaatkan media sosial dan platform online untuk menjual produk mereka. Usaha kecil pun dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas tanpa harus mempunyai toko besar. Kondisi ini menjadi peluang bagi generasi muda untuk belajar berwirausaha, mengembangkan kreativitas, serta mempelajari keterampilan digital yang semakin dibutuhkan. Walaupun memiliki banyak manfaat, teknologi juga mempunyai dampak negatif. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat membuat seseorang terlalu bergantung pada dunia digital dan mengurangi waktu untuk belajar maupun berinteraksi secara langsung. Selain itu, terdapat berbagai masalah seperti berita palsu, penipuan online, cyberbullying, dan penyalahgunaan data pribadi. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, memilih informasi yang benar, dan menjaga keamanan diri di ruang digital. Teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi, tetapi harus digunakan dengan cerdas dan bertanggung jawab. Sebagai generasi muda, kita sebaiknya tidak hanya menggunakan teknologi untuk hiburan, tetapi juga untuk belajar, berkarya, mengembangkan keterampilan, dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat. Pada akhirnya, kemajuan teknologi bukan hanya tentang seberapa canggih alat yang kita gunakan, tetapi tentang bagaimana manusia memanfaatkannya. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kemampuan manusia untuk berpikir, memilih, dan bertanggung jawab tidak boleh tertinggal. Writen by : Alfira Emilia Chesta Edited by : Dicky Santoso, S.I.Kom 117 Views
Pentingnya Etika dan Sopan Santun di Sekolah
Pentingnya Etika dan Sopan santun di Sekolah Di zaman sekarang, memiliki nilai akademik yang tinggi saja belum cukup. Attitude atau sikap menjadi salah satu hal yang tidak kalah penting dalam kehidupan, terutama di lingkungan sekolah. Percuma jika seseorang pintar, tetapi terbiasa berbicara kasar, tidak menghargai guru, atau tidak peduli terhadap teman. Sebaliknya, orang yang memiliki etika dan sopan santun justru akan lebih dihargai, dipercaya, dan disenangi oleh banyak orang. Etika dan sopan santun bukan berarti harus selalu kaku atau bersikap terlalu formal. Justru, etika dimulai dari hal-hal sederhana yang sering kali kita anggap sepele. Misalnya, mengucapkan salam ketika bertemu guru, mengucapkan “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”, mendengarkan saat orang lain berbicara, serta menghargai perbedaan pendapat. Kebiasaan kecil seperti ini mampu menciptakan hubungan yang lebih baik antarsesama dan membuat lingkungan sekolah terasa lebih nyaman. Sekolah bukan hanya tempat untuk mempelajari mata pelajaran, tetapi juga tempat membentuk karakter. Di sinilah kita belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab, disiplin, mampu bekerja sama, dan menghormati orang lain. Jika setiap siswa mampu menjaga sikap, tidak saling mengejek, tidak melakukan perundungan (bullying), serta menjaga ucapan, maka suasana belajar akan menjadi lebih aman, nyaman, dan menyenangkan. Lingkungan yang positif juga akan membuat setiap orang lebih semangat untuk belajar dan berkembang. Memasuki era digital, etika tidak hanya berlaku saat bertatap muka, tetapi juga di dunia maya. Media sosial memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk berpendapat, tetapi kebebasan tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab. Jangan mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, memberikan komentar yang menyakiti orang lain, atau membuat konten yang merugikan pihak tertentu. Perlu diingat bahwa jejak digital dapat bertahan dalam waktu yang lama dan dapat memengaruhi reputasi seseorang di masa depan. Memiliki etika dan sopan santun juga menjadi bekal penting ketika memasuki dunia perkuliahan maupun dunia kerja. Kemampuan menghargai orang lain, berkomunikasi dengan baik, bekerja sama dalam tim, serta menunjukkan sikap profesional sering kali menjadi nilai tambah yang sama pentingnya dengan kemampuan akademik. Tidak sedikit perusahaan maupun perguruan tinggi yang lebih menghargai seseorang dengan karakter baik karena keterampilan dapat dipelajari, sedangkan karakter dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Etika dan sopan santun bukan sekadar aturan yang dibuat sekolah, melainkan cerminan kualitas diri seseorang. Nilai akademik memang dapat membuka peluang, tetapi sikap yang baik akan menentukan sejauh mana seseorang dapat dipercaya, dihormati, dan diterima di lingkungan mana pun. Seperti yang pernah dikatakan oleh Confucius, “Respect yourself and others will respect you.” Menghargai orang lain pada hakikatnya adalah bentuk menghargai diri sendiri. Berbagai penelitian dalam bidang pendidikan juga menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang dipenuhi rasa saling menghormati mampu menciptakan suasana belajar yang lebih aman, nyaman, dan produktif, sekaligus membantu mengurangi kasus perundungan serta meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Pada akhirnya, orang mungkin akan lupa seberapa tinggi nilai yang kita peroleh, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana sikap kita memperlakukan orang lain. Karena itu, mari mulai membiasakan etika dan sopan santun dari hal-hal sederhana. Jadilah generasi yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga berkarakter dalam bertindak. Sebab, prestasi dapat membuat seseorang dikenal, tetapi etika dan sopan santunlah yang akan membuatnya dihormati sepanjang kehidupan. Written by Zhio Surya Ramadhan Editor by Dicky santoso, S.I.Kom 273 Views
Tips Menyeimbangkan Waktu Belajar dan Organisasi
Sebagai pelajar, belajar merupakan kewajiban utama. Namun, mengikuti organisasi juga memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan sosial, kepemimpinan, komunikasi, dan tanggung jawab. Sayangnya, masih banyak pelajar yang belum mengetahui cara menyeimbangkan waktu antara kegiatan akademik dan organisasi. Salah satu tantangan yang sering dihadapi pelajar aktif adalah kesulitan membagi waktu antara menyelesaikan tugas sekolah dan mengikuti kegiatan organisasi. Tidak jarang seseorang harus memilih antara mengerjakan tugas atau menghadiri rapat. Padahal, dengan manajemen waktu yang baik, keduanya dapat berjalan secara seimbang. Nah, Teman Jurnal, berikut beberapa tips yang bisa kamu terapkan. 1. Buat Jadwal Kegiatan Mungkin bagi sebagian Teman Jurnal, membuat jadwal terasa merepotkan. Padahal, kebiasaan ini sangat membantu agar seluruh kegiatan tersusun dengan rapi. Dengan memiliki jadwal, kamu dapat mengetahui kapan harus belajar, mengerjakan tugas, mengikuti rapat organisasi, maupun beristirahat. Tanpa jadwal yang jelas, tugas sekolah berisiko terlambat dikumpulkan, kegiatan organisasi menjadi tidak teratur, dan pekerjaan dapat terus menumpuk. Kondisi tersebut dapat memicu stres, kelelahan, bahkan menurunkan prestasi akademik maupun keaktifan dalam organisasi. Sebagai contoh, apabila kamu memiliki rapat organisasi pada sore hari, usahakan menyelesaikan tugas yang memiliki tenggat waktu lebih dekat sebelum rapat dimulai. Jika belum selesai, lanjutkan kembali setelah kegiatan organisasi berakhir. Dengan cara ini, seluruh tanggung jawab tetap dapat berjalan dengan baik. 2. Susun Skala Prioritas Tidak semua tugas dan kegiatan memiliki tingkat kepentingan maupun tenggat waktu yang sama. Oleh karena itu, Teman Jurnal perlu menentukan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Menurut prinsip manajemen waktu yang diperkenalkan oleh Stephen R. Covey, seseorang akan lebih efektif apabila mampu membedakan kegiatan yang penting dan yang hanya terasa mendesak. Dengan menyusun skala prioritas, waktu dan energi dapat digunakan secara lebih efektif sehingga pekerjaan penting dapat diselesaikan tepat waktu tanpa mengabaikan tanggung jawab lainnya. 3. Disiplin dan Konsisten Disiplin merupakan kunci untuk memulai kebiasaan yang baik, sedangkan konsisten membantu menjaga kebiasaan tersebut agar terus dilakukan. Kedua sikap ini akan membantu Teman Jurnal menyelesaikan tanggung jawab secara tepat waktu sekaligus membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Selain disiplin, jangan lupakan waktu untuk beristirahat. Tidur yang cukup, makan secara teratur, dan meluangkan waktu sejenak untuk relaksasi dapat membantu menjaga konsentrasi, meningkatkan daya ingat, serta mencegah kelelahan fisik maupun mental. Dengan bersikap disiplin dan konsisten, kegiatan akademik maupun organisasi dapat berjalan lebih teratur sehingga tujuan yang ingin dicapai menjadi lebih mudah diwujudkan. 4. Hindari Prokrastinasi Prokrastinasi adalah kebiasaan menunda pekerjaan meskipun seseorang mengetahui bahwa penundaan tersebut dapat menimbulkan masalah di kemudian hari. Kebiasaan ini sering kali membuat pekerjaan menumpuk, meningkatkan rasa stres, dan menurunkan kualitas hasil yang dikerjakan. Agar hal tersebut tidak terjadi, biasakan untuk segera mengerjakan tugas setelah menerimanya. Jika tugas terasa berat, cobalah membaginya menjadi beberapa bagian kecil dan hindari gangguan yang dapat mengurangi fokus selama belajar maupun bekerja. 5. Bangun Komunikasi yang Baik Dalam kehidupan pelajar, tidak semua rencana berjalan sesuai jadwal. Ada kalanya rapat organisasi berbenturan dengan tugas sekolah, kegiatan kelas, atau agenda penting lainnya. Jika hal tersebut terjadi, jangan ragu untuk berkomunikasi dengan guru, pembina organisasi, maupun teman satu tim. Komunikasi yang baik dapat membantu menemukan solusi terbaik, seperti mengatur ulang jadwal rapat atau membagi tugas dengan anggota lain. Dengan begitu, tidak ada tanggung jawab yang harus dikorbankan. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Manajemen Riset Inovasi (2025) menunjukkan bahwa manajemen waktu yang baik dan keaktifan dalam berorganisasi memiliki pengaruh positif terhadap prestasi akademik. Penelitian tersebut membuktikan bahwa seseorang yang mampu mengelola waktunya dengan baik dapat tetap aktif dalam organisasi tanpa mengabaikan tanggung jawab belajarnya. Menurut saya, keseimbangan antara belajar dan berorganisasi merupakan keterampilan yang perlu dimiliki setiap pelajar. Organisasi bukanlah penghambat prestasi akademik, melainkan wadah untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama, memimpin, memecahkan masalah, dan bertanggung jawab. Selama mampu mengatur waktu dengan baik, keduanya dapat saling mendukung. Pada akhirnya, prestasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar seseorang, tetapi juga oleh seberapa baik ia mengelola waktunya. Dengan manajemen waktu yang baik, Teman Jurnal dapat berkembang di bidang akademik sekaligus aktif dalam organisasi tanpa harus mengorbankan salah satunya. Jadikan setiap pengalaman belajar dan berorganisasi sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Artikel oleh: Andara Editor Oleh: Dicky Santoso, S.I.Kom 219 Views
Fenomena Crab Mentality di Sekolah: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Mental Siswa
Pernahkah Kita Menjadi “Kepiting” bagi Orang Lain? Bayangkan sebuah ember berisi banyak kepiting. Menariknya, ember itu tidak perlu ditutup. Ketika satu kepiting hampir berhasil keluar, kepiting lain justru menariknya kembali ke bawah. Akibatnya, tidak ada satu pun yang berhasil keluar. Fenomena ini dikenal sebagai crab mentality atau mental kepiting. Mungkin terdengar seperti cerita sederhana, tetapi filosofi ini sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah. Seorang siswa mulai berprestasi, lalu muncul komentar seperti: “Sok pintar.” “Baru menang sekali saja sudah sombong.” “Paling juga karena guru pilih kasih.” Ada pula siswa yang ingin mengikuti lomba tetapi dihalangi temannya dengan kalimat, “Ngapain ikut? Pasti kalah.” Komentar-komentar tersebut mungkin terdengar sepele. Namun jika terus terjadi, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar membuat seseorang sedih. Mental kepiting dapat menghambat perkembangan diri, menurunkan rasa percaya diri, bahkan memengaruhi kesehatan mental seluruh lingkungan sekolah. Sekolah seharusnya menjadi tempat setiap orang tumbuh bersama, bukan tempat yang membuat seseorang takut berkembang karena khawatir dijatuhkan oleh orang lain. Apa Itu Filosofi Mental Kepiting? Berasal dari Pengamatan Sederhana Istilah crab mentality berasal dari pengamatan terhadap kepiting dalam ember. Saat satu kepiting hampir keluar, kepiting lain justru menariknya kembali sehingga semuanya tetap terjebak. Dalam psikologi sosial, fenomena ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk merasa tidak nyaman melihat keberhasilan orang lain. Daripada ikut berkembang, ia memilih menjatuhkan, meremehkan, atau menghambat orang yang sedang maju. Mental kepiting bukan berarti seseorang adalah orang jahat. Dalam banyak kasus, perilaku ini muncul karena rasa takut, iri, rendah diri, atau keyakinan bahwa keberhasilan orang lain akan mengurangi kesempatan dirinya. Padahal kenyataannya, keberhasilan seseorang tidak otomatis membuat orang lain gagal. Mengapa Mental Kepiting Bisa Muncul di Sekolah? Lingkungan sekolah merupakan tempat berbagai emosi berkembang. Persaingan akademik, lomba, organisasi, media sosial, hingga pencarian jati diri membuat siswa lebih sensitif terhadap pencapaian teman-temannya. Beberapa penyebab yang sering ditemukan antara lain: 1. Budaya Membandingkan Ketika nilai, prestasi, atau kemampuan selalu dibandingkan, siswa mulai percaya bahwa hidup adalah perlombaan tanpa akhir. Akibatnya, keberhasilan teman dianggap ancaman. 2. Rasa Tidak Percaya Diri Siswa yang belum mengenali potensinya lebih mudah merasa minder. Melihat teman sukses justru memperkuat keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik. 3. Pengaruh Media Sosial Media sosial sering hanya menampilkan keberhasilan. Tanpa sadar muncul pikiran, “Kenapa semua orang hebat, sementara aku tidak?” Perasaan tersebut dapat berubah menjadi iri dan mendorong perilaku negatif. 4. Kurangnya Apresiasi Lingkungan yang hanya menghargai juara pertama membuat siswa percaya bahwa hanya sedikit orang yang boleh berhasil. Padahal setiap siswa memiliki potensi yang berbeda. Fakta dan Data Mengenai Kesehatan Mental Remaja Fenomena mental kepiting bukan hanya berkaitan dengan hubungan sosial, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Beberapa data penting menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja menjadi perhatian global. WHO (2024) menyatakan sekitar 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental, dan sebagian besar tidak mendapatkan bantuan yang memadai. UNICEF (The State of the World’s Children) menjelaskan bahwa masalah kesehatan mental berkontribusi terhadap penurunan kualitas belajar, hubungan sosial, dan produktivitas remaja. Kementerian Kesehatan RI melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan kesehatan mental remaja menjadi salah satu isu yang semakin mendapat perhatian karena meningkatnya tekanan sosial dan akademik. Penelitian dalam Journal of Adolescence menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya merupakan salah satu faktor protektif paling kuat terhadap stres dan depresi pada remaja. Artinya, lingkungan sekolah yang suportif bukan hanya membuat siswa lebih nyaman belajar, tetapi juga berperan menjaga kesehatan mental mereka. Bagaimana Mental Kepiting Terlihat di Sekolah? Mental kepiting sering kali tidak muncul dalam bentuk konflik besar. Justru perilaku kecil yang dilakukan berulang-ulang menjadi masalah. Misalnya: mengejek teman yang rajin belajar; menyebarkan gosip ketika ada siswa berprestasi; meremehkan teman yang mengikuti lomba; sengaja tidak membantu anggota kelompok agar nilainya turun; memberikan komentar sinis terhadap keberhasilan orang lain; mengucilkan siswa yang dianggap terlalu aktif. Semua tindakan tersebut menciptakan lingkungan yang membuat orang takut berkembang. Contoh Kasus Raka (bukan nama sebenarnya) dikenal sebagai siswa yang pendiam. Suatu hari ia berhasil memenangkan lomba desain grafis tingkat kota. Alih-alih mendapatkan dukungan, beberapa teman mulai berkata, “Pasti editannya dibantu orang.” “Sekarang sok terkenal.” Awalnya Raka hanya diam. Namun beberapa minggu kemudian ia mulai menolak mengikuti perlombaan lain. Ia merasa lebih aman jika tidak terlalu menonjol. Padahal sekolah kehilangan kesempatan memiliki siswa yang dapat terus berkembang. Kasus seperti ini sering terjadi tanpa disadari. Yang terluka bukan hanya satu orang, tetapi budaya sekolah secara keseluruhan. Dampak Mental Kepiting Dampak Jangka Pendek menurunkan rasa percaya diri; membuat siswa takut mencoba hal baru; meningkatnya stres; muncul rasa cemas terhadap penilaian orang lain; hubungan pertemanan menjadi tidak sehat. Dampak Jangka Panjang Jika terus dibiarkan, dampaknya bisa lebih serius. Siswa dapat kehilangan motivasi belajar, enggan mengembangkan potensi, mengalami kelelahan emosional, bahkan membawa pola hubungan yang tidak sehat hingga dunia kerja. Sekolah juga akan kehilangan budaya kolaborasi. Padahal kemampuan bekerja sama merupakan salah satu kompetensi penting abad ke-21. Tanda-Tanda yang Perlu Dikenali Pada Siswa takut tampil meskipun mampu; sering meremehkan keberhasilan orang lain; mudah iri terhadap prestasi teman; enggan memberikan apresiasi; menarik diri setelah mendapat komentar negatif. Pada Guru Guru dapat memperhatikan jika: suasana kelas sering dipenuhi ejekan; siswa enggan presentasi; muncul kelompok yang saling menjatuhkan; prestasi justru menjadi bahan olok-olok. Pada Orang Tua Orang tua dapat mulai waspada apabila anak: kehilangan semangat belajar; tidak lagi percaya diri; takut mengikuti perlombaan; sering berkata bahwa dirinya tidak cukup baik dibanding teman-temannya. Cara Mengatasi Mental Kepiting di Lingkungan Sekolah 1. Ubah Pola Pikir dari Kompetisi menjadi Kolaborasi Prestasi teman bukan ancaman. Keberhasilan seseorang dapat menjadi inspirasi. 2. Biasakan Memberikan Apresiasi Ucapan sederhana seperti, “Selamat.” “Kerjamu keren.” dapat memberikan dampak psikologis yang besar. 3. Fokus pada Proses Setiap orang memiliki garis start yang berbeda. Membandingkan hasil tanpa melihat proses hanya akan menimbulkan rasa tidak adil. 4. Bangun Growth Mindset Psikolog Carol Dweck menjelaskan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan pembelajaran. Keberhasilan orang lain bukan bukti bahwa kita tidak mampu. 5. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri Media sosial sering hanya memperlihatkan hasil akhir. Yang tidak terlihat adalah proses panjang di balik keberhasilan tersebut. 6. Berani Meminta Bantuan Ketika merasa iri, cemas, atau kehilangan motivasi, berbicaralah kepada guru BK, wali kelas, orang tua,
Meneguhkan Semangat Pancasila di Era Digital: Langkah Nyata Generasi Dwiguna untuk Indonesia
Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum penting untuk mengenang lahirnya dasar negara yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila bukan hanya warisan para pendiri bangsa, tetapi juga pedoman yang terus relevan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Sejarah Hari Lahir Pancasila bermula pada sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang berlangsung pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Dalam sidang tersebut, para tokoh bangsa membahas dasar negara Indonesia yang akan merdeka. Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan pidato yang memperkenalkan lima prinsip dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. Gagasan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan bangsa hingga akhirnya Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara Republik Indonesia. Karena peristiwa bersejarah tersebut, setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila untuk mengenang nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi bangsa Indonesia. Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat, nilai-nilai Pancasila menjadi penuntun agar generasi muda tetap memiliki karakter yang kuat, menjunjung persatuan, serta mampu berkontribusi positif bagi kemajuan Indonesia. Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila tahun 2026, keluarga besar SMK TI Dwiguna bersama SMK Kesehatan Bhakti Insani melaksanakan upacara bendera yang berlangsung di Aula Kebersamaan pada Senin, 1 Juni 2026. Upacara dimulai pukul 07.30 WIB dan diikuti oleh seluruh siswa-siswi, guru, serta kepala sekolah. Sejak pagi hari, suasana penuh khidmat telah terasa di lingkungan sekolah. Seluruh peserta mengikuti jalannya upacara dengan tertib dan penuh rasa hormat sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi kesempatan bagi seluruh warga sekolah untuk kembali merefleksikan pentingnya menjaga persatuan dan semangat kebangsaan. Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala SMK Kesehatan Bhakti Insani, Bapak Azhar Mamoen, S.Kom., M.Pd., menyampaikan amanat kepada seluruh peserta upacara. Dalam amanatnya, beliau mengajak siswa untuk memahami makna lahirnya Pancasila sebagai dasar negara yang mempersatukan keberagaman bangsa Indonesia. Beliau juga menekankan bahwa generasi muda saat ini hidup di era teknologi yang penuh dengan peluang untuk berkembang dan berkarya. Oleh karena itu, siswa diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara positif untuk meningkatkan kompetensi, mengembangkan kreativitas, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, beliau mengingatkan agar para siswa tidak mudah termakan berita hoaks dan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sikap kritis, bijak dalam bermedia digital, serta kemampuan memverifikasi informasi menjadi bagian penting dari pengamalan nilai-nilai Pancasila di era modern. Bagi SMK TI Dwiguna, makna Hari Lahir Pancasila tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan upacara semata, tetapi juga melalui pembentukan karakter peserta didik yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Sebagai sekolah yang bergerak di bidang teknologi informasi, SMK TI Dwiguna memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam kompetensi teknologi, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Kemampuan menguasai teknologi harus diiringi dengan karakter yang kuat agar ilmu yang dimiliki dapat digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa. Di era digital saat ini, siswa SMK TI Dwiguna dapat memaknai semangat Pancasila dengan menjadi generasi yang cerdas dalam bermedia sosial, menghargai perbedaan, menjaga etika komunikasi, serta menggunakan teknologi untuk menciptakan inovasi yang bermanfaat. Mereka dapat menjadi pelopor dalam menyebarkan informasi yang benar, melawan hoaks, dan membangun ruang digital yang sehat. Dengan demikian, semangat perjuangan para pendiri bangsa dapat terus hidup melalui karya dan kontribusi nyata generasi muda di bidang teknologi. Hari Lahir Pancasila juga menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi penerus yang saat ini sedang menempuh pendidikan. Oleh karena itu, seluruh siswa SMK TI Dwiguna diharapkan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan rasa cinta tanah air, setiap siswa memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari generasi yang membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Keluarga besar SMK TI Dwiguna mengucapkan Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026. Mari terus memperkuat persatuan, menjaga nilai-nilai luhur bangsa, serta memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan Indonesia. Bersama semangat Pancasila, kita tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berprestasi, dan bangga menjadi bagian dari SMK TI Dwiguna. Dokumentasi Kegiatan:https://drive.google.com/drive/folders/1W-arW-8iQ12MfQ9rDjqjnH9EUtlU7PXM Penulis : Cantika Larasati Editor : Dicky Santoso, S.I.Kom 354 Views