Di Tengah Kesibukan Pelajar, Masihkah Olahraga Menjadi Prioritas?

Hari Olahraga Nasional 2026: Di Tengah Kesibukan Pelajar, Masihkah Olahraga Menjadi Prioritas?

Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 menjadi pengingat bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga bagian penting dari gaya hidup sehat. Di tengah padatnya jadwal sekolah, tugas, kegiatan organisasi, hingga penggunaan gadget yang semakin tinggi, banyak pelajar mulai kesulitan meluangkan waktu untuk berolahraga. Padahal, tubuh yang sehat merupakan modal utama untuk belajar, berkarya, dan meraih prestasi.

Kesibukan memang tidak bisa dihindari. Namun, apakah kesibukan tersebut menjadi alasan untuk mengabaikan aktivitas fisik? Atau justru olahraga perlu tetap menjadi prioritas agar tubuh dan pikiran mampu menghadapi berbagai tuntutan sehari-hari?

Hari Olahraga Nasional Bukan Sekadar Peringatan

Setiap tanggal 9 September, Indonesia memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Tanggal tersebut berkaitan dengan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama yang berlangsung di Solo pada 9 September 1948. Sejak saat itu, Haornas menjadi salah satu momentum untuk meningkatkan semangat olahraga di Indonesia.

Namun, menurut saya, Hari Olahraga Nasional seharusnya tidak hanya menjadi agenda tahunan yang ramai diperingati selama satu hari. Momentum ini perlu menjadi pengingat bahwa olahraga merupakan kebiasaan yang seharusnya terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh pelajar.

Bagi pelajar, semangat Haornas dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu membiasakan tubuh untuk tetap aktif setiap hari. Tidak perlu menunggu menjadi atlet atau mengikuti kompetisi, karena aktivitas fisik dapat dilakukan oleh siapa saja sesuai kemampuan masing-masing.

Pentingnya Olahraga bagi Kesehatan Pelajar

Olahraga memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan fisik maupun mental. Menurut World Health Organization (WHO), anak dan remaja berusia 5–17 tahun dianjurkan melakukan setidaknya 60 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat setiap hari.

Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga kebugaran tubuh, memperkuat tulang dan otot, serta mendukung kesehatan secara keseluruhan. Selain itu, olahraga juga dapat membantu menjaga kesehatan mental, mengurangi stres, memperbaiki kualitas tidur, dan meningkatkan konsentrasi.

Bagi pelajar yang setiap hari menghadapi tugas, ujian, kegiatan sekolah, dan berbagai tuntutan lainnya, aktivitas fisik dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan tubuh dan pikiran.

Olahraga juga tidak harus dilakukan melalui latihan berat atau mengikuti kompetisi. Berjalan kaki, bersepeda, bermain sepak bola, bulu tangkis, basket, voli, jogging, maupun mengikuti kegiatan olahraga di sekolah merupakan beberapa contoh aktivitas fisik yang dapat dilakukan.

Artinya, olahraga sebenarnya tidak harus rumit. Yang paling penting adalah bagaimana tubuh tetap aktif secara rutin.

Mengapa Banyak Pelajar Kurang Aktif Berolahraga?

Jika olahraga memiliki banyak manfaat, mengapa masih banyak orang yang kurang aktif bergerak?

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 37,4% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas tergolong kurang melakukan aktivitas fisik. Dari kelompok tersebut, alasan terbesar yang diberikan adalah tidak memiliki waktu, yaitu sebesar 48,7%.

Kondisi tersebut cukup dekat dengan kehidupan pelajar. Setelah mengikuti pembelajaran di sekolah, mereka masih harus mengerjakan tugas, mengikuti organisasi, belajar di rumah, membantu pekerjaan rumah, hingga mempersiapkan berbagai kegiatan lainnya.

Di sisi lain, penggunaan smartphone, bermain game, dan media sosial juga membuat banyak waktu luang dihabiskan dalam keadaan duduk.

Menurut saya, alasan “tidak punya waktu” sering kali muncul karena olahraga belum menjadi prioritas. Padahal, seseorang tidak harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk berolahraga. Menyediakan waktu 20 hingga 30 menit untuk bergerak secara rutin dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan yang lebih sehat.

Masalahnya bukan selalu tentang berapa banyak waktu yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakannya.

Dampak Kurangnya Aktivitas Fisik bagi Pelajar

Kurangnya aktivitas fisik tidak hanya berdampak pada kesehatan tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Gaya hidup yang terlalu banyak duduk atau sedentary lifestyle dapat menyebabkan tubuh menjadi kurang bugar. Dalam jangka panjang, kurangnya aktivitas fisik juga berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai masalah kesehatan.

Bagi pelajar, kebiasaan kurang bergerak juga dapat membuat waktu sehari-hari lebih banyak dihabiskan di depan layar. Padahal, tubuh tetap membutuhkan aktivitas agar dapat menjaga kebugaran.

Sebaliknya, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu pelajar menjaga kebugaran, mengelola stres, dan mendukung kemampuan untuk menjalani kegiatan belajar maupun aktivitas lainnya.

Karena itu, olahraga tidak seharusnya dianggap sebagai kegiatan tambahan yang hanya dilakukan ketika memiliki banyak waktu. Aktivitas fisik justru perlu menjadi bagian dari rutinitas.

Hari Olahraga Nasional 2026 sebagai Momentum Membangun Kebiasaan Sehat

Hari Olahraga Nasional 2026 dapat menjadi momentum untuk memulai perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan olahraga tidak harus dimulai dengan target yang berat. Hal yang lebih penting adalah konsistensi.

Pelajar dapat memulainya melalui beberapa kebiasaan sederhana, seperti:

  • mengikuti kegiatan olahraga di sekolah dengan aktif;

  • mengikuti ekstrakurikuler olahraga;

  • berjalan kaki atau bersepeda jika memungkinkan;

  • bermain olahraga bersama teman;

  • mengurangi waktu duduk terlalu lama;

  • meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas fisik setiap hari.

Kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan aktivitas olahraga yang hanya dilakukan sesekali.

Haornas juga dapat menjadi momentum bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan yang mendorong siswa lebih aktif. Kegiatan seperti senam, pertandingan antarkelas, ekstrakurikuler olahraga, maupun aktivitas fisik lainnya dapat menjadi sarana untuk membangun budaya olahraga di lingkungan sekolah.

Olahraga Bukan Hanya untuk Menjadi Juara

Olahraga sering kali dikaitkan dengan kompetisi dan prestasi. Atlet yang memenangkan pertandingan mendapatkan penghargaan, medali, dan pengakuan. Namun, manfaat olahraga sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar menjadi juara.

Bagi pelajar, olahraga dapat mengajarkan berbagai nilai seperti disiplin, kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, dan kemampuan untuk menerima kemenangan maupun kekalahan.

Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bekal penting dalam kehidupan. Pelajar tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga kesehatan fisik dan karakter yang baik untuk menghadapi masa depan.

Saya percaya bahwa olahraga bukan hanya tentang mengejar prestasi atau menjadi atlet. Bagi pelajar, menjaga tubuh tetap sehat merupakan bekal penting agar dapat belajar dengan optimal, berkarya, dan meraih cita-cita di masa depan.

Dengan tubuh yang sehat dan pikiran yang lebih segar, berbagai aktivitas sehari-hari juga dapat dijalani dengan lebih baik.

Olahraga Harus Menjadi Kebiasaan, Bukan Sekadar Tren

Peringatan Hari Olahraga Nasional setiap 9 September memang dapat meningkatkan perhatian masyarakat terhadap pentingnya olahraga. Namun, semangat tersebut akan kehilangan makna jika hanya bertahan selama satu hari.

Olahraga seharusnya menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Tidak perlu selalu melakukan aktivitas yang berat. Berjalan kaki, bermain bersama teman, bersepeda, atau melakukan aktivitas fisik lainnya dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Bagi pelajar yang memiliki jadwal padat, mengatur waktu menjadi hal penting. Waktu untuk belajar, beristirahat, bersosialisasi, menggunakan gadget, dan berolahraga perlu memiliki keseimbangan.

Pada akhirnya, membangun gaya hidup aktif bukan tentang mencari waktu yang kosong, tetapi menyediakan waktu karena kesehatan memang penting.

Penutup

Hari Olahraga Nasional 2026 bukan sekadar peringatan tahunan yang diramaikan dengan berbagai kegiatan olahraga. Haornas seharusnya menjadi momentum untuk kembali menyadari bahwa kesehatan perlu dijaga melalui kebiasaan sehari-hari.

Kesibukan sebagai pelajar memang tidak dapat dihindari. Namun, kesibukan seharusnya tidak membuat aktivitas fisik sepenuhnya hilang dari kehidupan. Olahraga juga tidak harus selalu berupa pertandingan atau latihan berat. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara rutin dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih aktif dan sehat.

Pada akhirnya, pertanyaan “Masihkah olahraga menjadi prioritas?” bukan hanya perlu dijawab saat Hari Olahraga Nasional. Jawabannya dapat terlihat dari kebiasaan kita setiap hari.

Sebab, olahraga bukan hanya tentang menjadi juara. Olahraga adalah tentang menjaga tubuh tetap sehat agar kita memiliki energi untuk belajar, berkarya, menjalani kehidupan, dan meraih cita-cita.

Written by : Dhamar Dwi Aryanto

Edited by : Dicky Santoso, S.I.Kom

28 Views

Jurnalis Dwiguna

Content Writer

SMK TI Dwiguna Depok merupakan Sekolah Menengah Kejuruan yang berkomitmen mencetak lulusan berkualitas dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. Dengan 4 kompetensi keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri.

Copyright © 2026 | Made By Media Center DG-BI | All Rights Reserved

Scroll To Top