Lebih dari Sekadar Luka: “Memahami Jeritan Hati di Balik Self-Harm”

Depok, 14/09/2025 – Pernahkah Anda mendengar istilah self-harm? Ini bukanlah tindakan untuk mengakhiri hidup. Sebaliknya, Self-harm adalah saat seseorang sengaja melukai diri mereka sendiri — entah dengan mengiris, memukul, atau membakar — sebagai cara untuk mengatasi rasa sakit emosional yang sudah tidak tertahankan. Mungkin kita bertanya-tanya, “Mengapa harus sampai melukai diri sendiri?” Bagi mereka, luka fisik seolah menjadi “pengalihan” dari rasa sakit di dalam hati yang jauh lebih perih. Sensasi nyeri di luar tubuh dianggap bisa mengusir rasa sakit yang tak terlihat di dalam.

Bukan Sekadar Cari Perhatian: Mengapa Seseorang Melakukannya?

Orang yang melakukan self-harm bukanlah sedang mencari perhatian. Mereka sedang berjuang dengan emosi yang luar biasa kuat, seperti kesedihan mendalam, amarah yang meledak-ledak, atau bahkan rasa hampa yang membuat mereka merasa mati rasa. Tindakan ini seringkali menjadi satu-satunya cara yang mereka tahu untuk melepaskan beban yang terlalu berat. Ironisnya, setelah melakukannya, rasa sakit fisik seringkali diikuti oleh rasa malu dan bersalah, yang justru bisa memicu mereka untuk melakukannya lagi.

Potret Masalah Mental di Indonesia: Data yang Tak Boleh Disepelekan

Jika Anda berpikir masalah ini tidak banyak terjadi di Indonesia, data menunjukkan hal sebaliknya. Menurut Kementerian Kesehatan dan UNICEF pada tahun 2022, ada sekitar 2,45 juta remaja di Indonesia yang memiliki masalah mental. Masalah-masalah ini sering menjadi pemicu utama mengapa seseorang akhirnya melakukan self-harm. Dengan angka sebesar ini, jelas bahwa self-harm bukanlah masalah sepele yang bisa kita abaikan.

Realita di Sekolah: Kasus yang Terjadi pada Siswa dan Siswi

Tidak hanya menjadi masalah statistik, perilaku self-harm juga terjadi di lingkungan terdekat kita, bahkan di sekolah. Beberapa kasus yang terungkap di Indonesia menunjukkan betapa seriusnya masalah ini, dan bagaimana faktor-faktor seperti perundungan (bullying) dan masalah keluarga berperan besar.

Sebagai contoh, pada tahun 2023, fenomena “nge-barcode”—istilah yang merujuk pada kebiasaan menyayat tangan hingga meninggalkan bekas seperti barcode—sempat viral dan terungkap di beberapa sekolah, termasuk di Gunungkidul, Yogyakarta. Puluhan siswi SMP diketahui melakukan hal ini karena berbagai alasan, mulai dari menjadi korban perundungan di sekolah hingga masalah keluarga yang membuat mereka merasa kesepian dan tertekan.

Kasus lain di Bengkulu Utara juga menunjukkan hal serupa, di mana puluhan siswi menyayat tangan mereka karena mengikuti tren di media sosial. Ini memperkuat temuan bahwa media sosial bisa menjadi salah satu pemicu, di mana konten yang menampilkan perilaku self-harm dapat memengaruhi remaja yang sedang rentan secara emosional.

Studi kasus menunjukkan bahwa bagi para pelajar ini, melukai diri adalah cara untuk mengalihkan perhatian dari rasa sakit emosional yang jauh lebih dalam. Mereka merasa sulit untuk mengelola emosi negatif seperti stres, kesepian, dan kemarahan, sehingga mencari “jalan keluar” yang instan, meskipun berbahaya.

Kasus-kasus ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa self-harm bukanlah sekadar tren atau perilaku yang dicari-cari, melainkan sebuah respons terhadap penderitaan yang nyata. Ini adalah jeritan hati para pelajar yang membutuhkan pertolongan dan dukungan, bukan penghakiman. Dengan memahami dan peka terhadap kondisi mereka, kita bisa menjadi bagian dari solusi.

Bagaimana Kita Bisa Membantu? Mengenali Tanda dan Memberi Dukungan

Nah, lalu bagaimana kita bisa membantu?

  1. Ciptakan Lingkungan yang Aman Mulailah dari diri kita sendiri. Buatlah ruang yang aman dan nyaman bagi teman atau keluarga untuk berbagi perasaan tanpa takut dihakimi. Jika Anda melihat seseorang yang tiba-tiba suka menyendiri atau memiliki luka aneh di tubuhnya, dekati mereka dengan tulus. Tunjukkan bahwa Anda peduli dan siap mendengarkan tanpa memaksa.
  2. Kenali dan Arahkan pada Bantuan Profesional Bagi mereka yang sedang berjuang, langkah paling penting adalah mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater. Para ahli ini dapat membantu menemukan akar masalah dan mengajarkan cara-cara yang lebih sehat untuk mengatasi emosi.
  3. Tawarkan Alternatif Pengalihan yang Lebih Sehat Anda juga bisa menyarankan beberapa trik kecil untuk mengalihkan niat melukai diri, seperti:
  • Merasakan sensasi dingin dari es batu yang diremas di telapak tangan.
  • Menggambar di kulit dengan spidol merah untuk mensimulasikan luka tanpa bahaya.
  • Melakukan aktivitas fisik yang dapat melepaskan energi negatif.

 

Intinya, self-harm adalah sinyal SOS. Sinyal bahwa seseorang sedang membutuhkan pertolongan. Dengan pemahaman dan empati, kita bisa menjadi jembatan bagi mereka untuk menemukan jalan keluar dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

Untuk mereka yang lagi berjuang, langkah paling penting adalah cari bantuan profesional, kayak psikolog atau psikiater. Mereka bisa bantu cari akar masalahnya dan ngasih cara-cara yang lebih sehat buat ngadepin emosi. Selain itu, ada trik kecil yang bisa dicoba buat ngalihin niat self-harm, misalnya meremas es batu, nggambar di kulit pakai spidol merah, atau melakukan aktivitas fisik. Intinya, kita harus tahu kalau self-harm itu adalah sinyal SOS, sinyal kalau mereka butuh pertolongan. Dengan pemahaman dan empati, kita bisa jadi jembatan buat mereka menemukan jalan keluar.

Penulis : Azizah Afrilizah Achdiat

Editor : Dicky Santoso, S.I.Kom

170 Views

Jurnalis Dwiguna

Content Writer

SMK TI Dwiguna Depok merupakan Sekolah Menengah Kejuruan yang berkomitmen mencetak lulusan berkualitas dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. Dengan 4 kompetensi keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri.

Artikel Terbaru

  • All Posts
  • Alumni
  • Artikel
  • Fasilitas dan Prasarana
  • Kegiatan Siswa
  • Kerjasama Industri
  • Kurikulum dan Pembelajaran
  • Pendidikan dan Pelatihan
  • Prestasi dan Penghargaan
  • Tips and Trick

Kategori

Kata Kunci

SMK TI Dwiguna Depok merupakan Sekolah Menengah Kejuruan yang berkomitmen mencetak lulusan berkualitas dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. Dengan 4 kompetensi keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri.

Copyright © 2026 | Made By Media Center DG-BI | All Rights Reserved

Scroll To Top